Ilmu pengetahuan akan semakin melekat ketika kita berusaha untuk membagikannya untuk orang lain, semakin kamu berusaha berbagi semakin kamu banyak mendapat manfaat

Showing posts with label Penelitian. Show all posts
Showing posts with label Penelitian. Show all posts

Wednesday, September 18, 2019

Laporan Karya Ilmiah Budidaya Ikan Air Tawar (Lele)


          Hay guys, hari ini Linda akan menuliskan laporan karya ilmiah budidaya ikan air tawar (lele) yang pernah Linda lakukan bersama teman-teman Linda ketika masih duduk dibangku SMA. Sebenarnya penelitian ini sudah dilakukan beberapa tahun yang lalu, hanya saja Laporan yang sudah dikumpulkan belum sempat Linda edit dan posting di blog Linda. Jadi semoga postingan ini tidak terlambat untuk di posting ya. Oh iya, isi didalamnya sudah diupgrade dengan pengetahuan baru yang sudah didapatkan seiring berkembang waktu dan ilmu pengetahuan saat ini

LAPORAN KARYA ILMIAH
BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR (LELE)


Disusun Oleh :
ARIS SUMANI
DESSY PUSPITASARI
ERLINDA PUSPITASARI
RIO DWI PRASETYO
ROBBY DWI
RONALDO ANDRI
SMAN BANDARKEDUNGMULYO JOMBANG
TAHUN PELAJARAN 2013/2014


BAB I
PENDAHULUAN

A Latar Belakang Masalah

Ikan adalah hewan yang menggantungkan hidup di air dan merupakan salah satu dari sekian banyak bahan makanan yang manusia butuhkan untuk dikonsumsi. Dan manfaat yang terkandung didalamnya terdapat bermacam-macam zat – zat yang dibutuhkan oleh tubuh manusia seperti : protein, vitamin A, Vitamin B1 dan Vitamin B2. Padahal, apabila dibandingkan dengan sumber penghasil protein lain seperti daging, susu, dan telur, ikan menempati posisi harga yang relative paling murah.
Karena berdasarkan pada pentingnya ikan bagi manusia, tak mengherankan jika manusia berusaha untuk mendapatkan ikan dengan jumlah yang banyak untuk mencukupi kebutuhannya, antara lain dengan beberapa cara yaitu dengan melakukan pencarian dihabitatnya yaitu laut dan ada juga yang memilihara ikan dengan sebaik – baiknya yang biasanya disebut dengan kegiatan perikanan. Dengan cara meliharaan ikan langsung di laut dan ada juga yang memeliharanya dikolam buatan yang sengaja dibuat oleh manusia.

 Biasanya ikan yang dipelihara di kolam buatan adalah ikan-ikan air tawar seperti ikan muajer dan ikan lele. Pemeliharaan kedua ikan ini sebenarnya relative sangat mudah karena tidak dibutuhkan perawatan khusus untuk ikan-ikan yang dipelihara, tetapi karena pemelihara ikan lele lebih banyak daripada ikan mujaer, maka penulis ingin untuk memfokuskan penelitian ini untuk budidaya ikan lele.
B.Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di latar belakang diatas, maka permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini hanya satu yaitu : bagaimana proses pemeliharaan ikan air tawar didalam kolam buatan.
C.Tujuan Penelitian
Tujuan dari diadakan penelitian ini adalah :

  1. Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk menyelesaikan materi terakhir dari pelajaran KMDM tahun pelajaran 2013/2014 di SMA NEGERI BANDARKEDUNGMULYO JOMBANG.
  2. Untuk mengkaji dan menganalisa bagaimana proses pemeliharaan ikan air tawar (lele). 
  3. Sebagai sarana dan prasarana peningkatan wawasan dan juga ilmu pengetahuan khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya untuk para pembaca tentang pemeliharaan ikan air tawar (lele).

D.Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang ingin dicapai dalam pembuatan karya tulis ini adalah :

  1. Penelitian ini diharapkan mampu untuk meningkatkan kepercayaan diri penulis sebagai bekal masa depan untuk menghadapi persaingan kualitas dengan mengandalkan ilmu pengetahuan tentang ikan air tawar (lele).
  2. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan penjelasan bagaimana proses para pengusaha ikan air tawar (lele) dalam melakukan pemeliharaan.
  3. Penelitian ini diharapkan mampu dijadikan sebagai bahan referensi dalam penelitian ataupun penulisan karya ilmiah tentang ikan air tawar (lele) kedepannya, sehingga membawa manfaat bagi para pembaca dan bagi adik - adik kelas selanjutnya.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Usaha Perikanan
Usaha perikanan air tawar pada kolam memang banyak terdapat didalam kehidupan masyarakat sekitar kita. Utamanya di daerah - daerah yang jauh dari laut, usaha ini dilakukan terkadang ditujukan sebagai usaha sambilan, ada juga yang memang benar-benar fokus untuk memelihara ikan ini dipekarangan rumah atau lahan – lahan kosong yang memang sengaja dibuat sebagai kolam pemeliharaan ikan air tawar (lele). Tempat untuk melihara ikan ini diberi nama yang berbeda-beda diantaranya adalah tambak, siwakan, kolam, keramba dan lain – lain.

B. Jenis – jenis ikan lele yang bisa dipelihara :
Pemeliharaan ikan air tawar (lele) pada umumnya jarang dilakukan jika hanya untuk memelihara satu jenis ikan, tetapi umumnya pengusaha memelihara jenis ikan campuran. Ini disebabkan karena didalam kolam sebenarnya memang sudah terdapat berbagai macam makanan untuk berbagai jenis ikan air tawar (lele), meskipun demikian, kita harus tetap memperhatikan jenis ikan apa saja yang cocok sebagai peliharaan utama dan peliharaan tambahan. Oleh sebab itu tekhnikmpercampuran jenis – jenis ikan itu harus sangat diperhatikan agar berbagai jenis ikan – ikan tersebut tidak saling dirugikan.

Adapun ikan – ikan (lele) yang dapat dilakukan pemeliharaannya pada air tawar adalah sebagai berikut :
  1. Ikan Lele Lokal (Clarias Batrachus)
  2. Ikan Lele Dumbo (Clarius Gariepinus)
  3. Ikan Lele Sangkuriang
  4. Ikan Lele Phyton
C.Lama Pemeliharaan
Lama pemeliharaan ikan pada lele dengan hasil yang maksimal terkadang memakan durasi waktu 3 – 4 bulan, pemeliharaan ikan dengan menggunakan air tawar bisa diperpanjang sampai 5 – 6 bulan. Sebenarnya ini sangat tidak menguntungkan, karena panen akan bisa dilakukan setelah memakan waktu yang cukup lama. Lamanya waktu tidak  menjamin besarnya ukuran ikan. Dengan demikian, besarnya biaya yang dikeluarkan hanya sia – sia saja. Keuntungan yang diperoleh apabila memelihara ikan dalam kurun waktu 3 – 4 bulan saja yaitu dalam satu tahun pengusaha dapat memungut hasil sebanyak tiga kali. Lain halnya apabila memelihara ikan dalam kurun waktu 5 – 6 bulan,. Pengusaha hanya akan dapat memungut hasilnya sebanyak dua kali saja.

D.Pemeliharaan
Selama pemeliharaan ikan air tawar (lele), hal yang harus dilakukan adalah membersihkan permukaan air dari hama dan gangguan – gangguan binatang lainnya. Dan juga bisa membersihkan kolam dari kotoran ikan-ikan itu sendiri atau bekas makanan yang diberikan kepada ikan-ikan tersebut.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Metode yang digunakan
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu metode penjelasan suatu masalah. Selain itu metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplanatori, yaitu metode yang menjelaskan apa, bagaimana hasil dari pada penelitian itu sendiri

B. Latar Penelitian
Penelitian ini penulis lakukan melalui wawancara langsung dengan narasumber Bapak Khasan, dan melakukan observasi atau kunjungan ke tempat budidaya ikan lele di Dsn.Kandangan Ds.Gondang Manis Kec.Bandarkedungmulyo Kab.Jombang.

C. Sumber Data
Dengan melakukan kunjungan langsung ke tempat budidaya dan dengan melakukan browsing pada situs – situs internet yang berhubungan dengan pemeliharaan ikan air tawar (lele).

D. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan mewawancarai narasumber pemilik tempat budidaya ikan air tawar (lele) dan melakukan browsing di internet, sehingga ada hubungan antara judul karya tulis dengan teori serta pelaksanaan penelitian itu sendiri dilapangan.

E. Teknik Analisis Data
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, yaitu metode analisa data dengan memaparkan hasil penelitian yang diperoleh setelah melakukan penelitian ikan air tawar (lele) di lapangan dan mendapatkan hasil yang selengkap-lengkapnya.

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Pembuatan Kolam Ikan Air Tawar

Agar para peternak ikan air tawar (lele) memperoleh hasil yang memuaskan dan sesuai dengan harapan, maka sebaiknya peternak memilih tempat dan mengerti bagaimana cara untuk memelihara ikan air tawar (lele) tersebut. Hal yang harus kita persiapkan untuk pembuatan kolam tersebut antara lain.
  1. Memilih tempat:
Tanah yang kita pilih sebagai tempat pembuatan kolam pemeliharaan ikan lele haruslah tanah yang subur. Setidaknya tanahnya subur dan dekat dengan sumber air, sedangkan tanah – tanah berkualitas buruk yang terdiri dari cadas atau tanah berpasir tidak baik dibuat sebagai tempat memelihara ikan air tawar (lele).

     2. Pembuatan Kolam
Pembuatan kolam sebagai tempat pemeliharaan ikan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu secara tradisional dan secara intensif.
Perlu diperhatikan bahwa permukaan kolam harus dibuat sedikit miring kearah pintu pengeluaran air dengan maksud agar kolam mudah dikeringkan pada saat memungutan hasil nanti.

Ada dua syarat pembuatan kolam diantaranya adalah

1. Saluran air yang gunanya adalah untuk memasukkan air kedalam kolam

2. Saluran pengeluaran air, biasanya saluran pengeluaran air ini dibuat dua buah saluran. Saluran yang pertama dibuat pada permukaan kolam sesuai dengan tinggi kolam yang diinginkan yang bertujuan untuk pencegahan supaya air kolam tidaklah meluap, sedangkan saluran pengeluaran  kedua biasanya dipasang dibagian bawah pematang kolam tepatnya sejajar dengan dasar kolam yang gunanya sebagai saluran penguras air kolam sewaktu waktu hendak dikeringkan.

Adapun jenis – jenis kolam adalah sebagai berikut :
1.Kolam Air Deras Segitiga, yang biasanya dibangun ditempat yang mempunyai debit air lebih dari 300 liter air per detik.
2.Kolam Bundar , Biasanya digunakan sebagai tempat pembenihan ikan air tawar.
3.Kolam Panjang, Kolam panjang biasanya banyak kita jumpai pada daerah – daerah irigasi yang digunakan sebagai tempat pemeliharaan.

B. Pembibitan Ikan Lele
Salah satu faktor yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya suatu usaha pemeliharaan ikan adalah tergantung dari baik dan tidak baiknya bibit ( benih ) yang ditebarkan. Oleh sebab itu sebelum kita lakukan pembibitan sebaiknya kita harus pastikan bahwa bibit ikan yang akan kita semaikan adalah bibit ikan yang sehat.adapun cara menentukan bibit ikan yang masih sehat adalah salah satunya adalah dengan cara: Mengejutkan bibit ikan air tawar (lele) yaitu dengan cara menepukkan tangan di atas air setelah itu kita perhatikan ikan – ikan yang terkejut dan bergerak dengan gesit itulah bibit ikan yang masih sehat dan begitu juga sebaliknya.

C. Penebaran Bibit
Kolam ikan yang akan kita tebari dengan bibit – bibit ikan harus kita keringkan dahulu selama tiga hari sehinggaga tanah dasar kolam itu benar – benar kering dan pecah – pecah, hal ini bertujuan agar bibit ikan buas dan kuman – kuman penyakit yang terdapat pada kolam yang akan kita jadikan tempat penebaran bibit ikan yang akan kita pelihara mati secara keseluruhan.

Sehari sebelum penebaran bibit, kolam diisi dengan air pada waktu itu sebaiknya dasar kolam ditanami dengan ganggang rantai ( Hydrilla verticilata ) yang natinya akan digunakan sebagai tempat hidup ganggang – ganggang menempel yang merupakan makanan utama ikan.
D. Pemeliharaan Ikan
Pekerjaan yang harus kita lakukan selama pemeliharaan terhadap ikan – ikan yang kita budidayakan adalah antara lain pemberian makanan ikan, pemupukan kolam, dan pencegahan atau pemberantasan hama dan pengakit.

1.Pemberian makan ikan
Seperti yang telah kita ketahui bahwa di dalam kolam sudah terdapat plankton – plankton sebagai makanan utama bagi ikan, selain itu kita juga dapat memberikan makanan tambahan yaitu berupa dedak halus, sebanyak dua kali sehari. Pada penaburan dedak halus usahakan permukaan kolam tidak tertutup oleh dedak halus karena akan berdampak buruk bagi ikan yang ada pada kolam.

2.Pemupukan kolam
Untuk menambah kesuburan kolam, sehingga hasil yang kita harapkan menjadi memuaskan kolam perlu diberi pupuk sedangkan pupuk yang kita taburkan ke kolam dapat berupa pupuk kompos ( pupuk hijau ) banyaknya kira – kira 1 ton untuk 10 are, ini bertujuan agar kolam tidak terlalu kotor, dan dapat juga dengan cara membuat kandang hewan di pinggiran kolam sehingga kotorannya bisa langsung jatuh ke dalam kolam.

3.Pencegahan / Pemberantasan hama dan penyakit
Seperti halnya dengan usaha – usaha yang lain usaha perikanan tidak luput dari gangguan. Gangguan – gangguan yang terdapat pada budidaya ikan tawar (lele) antara lain Ular, burung, ketam, ikan buas terutama ikan – ikan liar yang terdapat pada kolam, biawak yang semua itu:

1.Mixobolus sp
Parasit ini banyak menyerang pada jaringan – jaringan tubuh ikan sehingga menimbulkan bengkak – bengkak dan penyakit ini sangat mudah menular, pencegahannya dengan cara memisahkan ikan yang sudah terkena penyakit iini.

2.Dactylogyrus
Parasit ini biasanya menyerang ikan – ikan yang masih kecil, menimbulkan penyakit pada ingsang dan kulit cara menghindari penyakit ini adalah dengan cara memberi makan yang cukup pada anak ikan.

3.Ichtyoxenus
Parasit ini merupakan racun yang berkembang didalam tubuh ikan, tetapi ikannya sendiri tidak terganggu.Sehingga ikan sendiri tidak terganggu, dan tidak berbahaya bagi pertumbuhan ikan.

 E.Pemungutan Hasil
Pada ahir masa pemeliharaan, tibalah waktu yang ditunggu – tunggu yaitu memungut hasil dari usaha yang selama ini kita kerjakan.
Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan pada saat pemungutan hasil atau panen diantaranya alat – alat yang digunakan untuk memungut hasil, cara yang dipakai untuk pemungutan hasil dan cara penyimpanan hasil. Adapun alat yang digunaakan untuk memungut hasil ikan banyak sekali caranya diantaranya : Kail, Jala, Jaring, Pecak, Anco, Bubu, Kere, dan lain sebagainya dan dapat pula dengan cara mengeringkan air kolam secara keseluruhan hal ini biasanya digunakan untuk pemanenan secara keseluruhan.

F. Pertanyaan :
1. Sejak tahun berapa bapak menggelutih bidang ini ?
- sejak tahun 2008

2. sejak tahun tersebut bagaimana persentase tingkat perokdutifitasnya ?
- tingkat perokdutifitasnya sangat baik, selalu ada peningkatan setiap tahunnya.

3. dipasarkan kemana saja hasil prokdusinya ?
- di sekitar wilayah gondang manis dan pasar terdekat

4. berapa kira-kira omset bapak per bulan ?
- bisa mencapai Rp.3.000.000,-
5. bagaimana minat para konsumen tentang ikan bapak ?
-bagus, karna para konsumen telah menyadari pentingnya protein hewani
6. apa manfaat dari membudidayakan ikan lele tersebut ?
-dapat menambah penghasilan dan dapat mengajak teman-teman untuk membudidayakan ikan lele dengan memanfaatkan lahan/empang/kolam perumahan yang selama ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat sekitar.
7. dimana lahan membudidayakannya ?
-disekitar lingkungan rumah.
8. bagaimana cara membudidayakannya ?
- 1. Pembenihan
Dari mulai penetasan berupa mener (seperti jentik nyamuk) sampai berumur 3 bulan masih di kolam pembenihan .umur 3bbulan baru saja bisa dipindahkan ke kolam.pembesaran yang ukuran kolam yang pun akan besar kanpa dipindahkan ke kolam pembesara, ini berguna utuk menimbulkan kekebalan ikan terhadap serangga penyakit. Ikan sudah dapat dipindahkan dengan cirri-ciri sudah dapat memakan daun-dauanan.
-2. Setiap pemesaran untuk pembesaran dalam per meter/ kubik air bisa diisi 10-30 ekor ikan walaupun idealnya 10-15 ekor ikan.Tapi tidak mengapa selama kebutuhan pakannya terpenuhi. Kolam harus seteril/bersih dalam arti terhhindar dari segala macam gangguan seperti : ular,biawak,samapi burung pemakan. Maka itu kolam harus selalu bersih agar terhindar/mencegah gangguan dari. binatang tersebut. Tidak boleh terlalu keruh atau terkena panas terlalu terik, agar ikan tidak lemas .kalau cuaca sedang panas baiknya kolam ditutupin daunt alas, agar ikan tidak lemas atau sampai mati.

9. apakah dengan adanya lahan kerja bapak berdampak buruk bagi warga sekitar?
-tidak ada justru dapat memanfaatkan hijau daun yang selama ini dianggap sampah seperti daun kladi-kladi,daun papaya,daun singkong,daun suek.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemeliharaan ikan air tawar (lele) dapat kita lakukan sebagai usaha sampingan dan dapat menguntungkan selain pengerjaan atau pemeliharaannya tidak terlalu rumit, dana yang diperlukan juga tidak terlalu besar dan hasil laangsung bisa dirsakan setelah selama 3 – 4 bulan kita melakukan pemeliharaan ikan lele ini. Tentunya harus sesuai dengan prosedur atau cara-cara yang telah dilakukan oleh pengusaha ikan air tawar (lele) lainnya yang terlebih dahulu melakukan usaha ini. Dan juga kebersihan disini juga sangat penting untuk menjamin kualitas dari ikan lele yang dihasilkan.

B. Saran
  • Kepada Pengusaha ikan lele

Tidak pernah bosan melakukan budidaya ikan air tawar (lele) ini sebab ini bisa menambah pendapatan keluarga yang lumayan besar disamping penghasilan pokok suatu keluarga. Dan untuk hasil yang lebih baik sebaiknya para pengusaha budidaya ikan  tawar (lele) untuk mengikuti penyuluhan – penyuluhan yang dilakukan oleh dinas perikanan dan instansi – intansi terkait lainnya.
  • Pemerintah
Agar lebih memperhatikan para pengusaha perikanan air lele terutma penusaha – pengusaha kecil dan menengah dengan cara memebrikan pinjaman dengan bunga perkreditan yang rendah dan juga melakukan penyuluhan – penyuluhan guna untuk menambah wawasan para pengusaha perikanan yang kecil dan menegah terutama yang berada di daerah – daerah sebab sebagian dari mereka hanya berpengalaman dari para pendahulunya sehingga wawasan mereka tentang perikanan tidak bertambah sehingga hasil yang mereka dapat juga tidak juga bertambah, apabila mereka diberikan wawasan maka mereka akan dapat mengembangkan usaha mereka untuk lebih maju lagi sehingga dapat mengangkat perekonomian mereka sehingga berkuranglah penduduk miskin di Negara Indonesia yang kita cintai ini, Amin.

DAFTAR PUSTAKA

  • Husen, Umar. 1996. Petunjuk Lengkap Membuat Karya Tulis Dan Tesis. Jakarta. Rajawali Pres.
  • Departemen pendidikan dan kebudayaan. 1994. kurikulum sekolah menengah umum ( GBPP ) mata pelajaran Biologi. Depdikbud.Jakarta.
  • Atmaja, Harjamulia, Dkk. 1976. Beberapa aspek tentang pemuliaan ikan.Bandung : Fakultas Pertanian, UNPAD.
  • Balai Informasi Pertanian. 1970. Budidaya Ikan Air Tawar dan Payau. Bogor Fakultas Pertanian, IPB.
  • Sumantadinata, Komar. 1981 .Pengembangan Ikan – ikan pemeliharaan di Indonesia. Jakarta. Sastra Hudaya.
  • Syamsudin, A.R. 1981. Pengantar Perikanan. Jakarta : Karya Nusantara.


Share:

Tuesday, April 16, 2019

Laporan Kegiatan Teaching English for Young Learner (TEYL)


ACTIVITY REPORT OF TEACHING ENGLISH FOR YOUNG LEARNER
(TEYL)

Teaching English for Young Learner (TEYL) adalah kegiatan yang dilakukan oleh universitas atau kampus yang mempunyai jurusan pendidikan Bahasa inggris. Di kegiatan ini, para mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa Inggris diminta untuk praktek mengajar dengan media yang sudah dibuat sebelumnya. Setiap mahasiswa diminta untuk membuat media pembelajaran yang cocok untuk pengajaran Bahasa Inggris dari mulai kelas 1 sampai dengan kelas 6 SD dengan mempertimbangan kebutuhan, kemampuan, dan lingkungan para siswa sehingga tidak akan ada media pembelajaran yang menyimpang dengan fakta lapangan yang ada. Contoh media pembelajaran yang saya pakai disini adalah kartu yang berisi vocabulary kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan oleh semua orang khususnya para siswa. Baca Cara Pembuatan Media Pembelajaran Untuk Teaching English for Young Learner (TEYL)

Saya menggunakan media pembelajaran tersebut untuk mengajar di kelas 4 SDN GONDANG MANIS, Kecamatan Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sangat-sangat menyenangkan dan mereka pun sampai nangis-nangis karena pembelajaran saya selesai dan saya pamitan untuk pulang. Kok jadi curhat sih??? Yasudah tidak perlu diteruskan lagi, berikut akan saya berikan Laporan Kegiatan Teaching English for Young Learner (TEYL)


Chapter II

2.1 Introductory Paragraph

That was in the fourth grade of Elementary School “Gondangmanis”. There were thirty students in there. There were so many kinds of students there based on their ability. The researcher divided them into five types of students at class. The five types of the students were the active students, the smart students, the calm students, the trouble makers, and the gang.  Here, the researcher doesn’t mean to focus on one types of good students or try to differ them in bad sides, but this is done just for giving the description about the random students in the real teaching program in fourth grade of Elementary School.

This also can give the information about the position of the students can divide them absolutely in the process of learning. The researcher could speak with them owing to the their seat. They didn’t sit down by their gender because the researcher found the students sat down beside the different gender, and they were not siblings. They were just classmate. There was no groups shown by their different seat. Five types of students sat down without making a group of seats. Some people told that the smart students would sit down in front, and the low students would sit down behind. The researcher didn’t find what some people told.

The First Type :

2.1.1        Description

The students really involved were the active students. In this class, the researcher found 8 students as the active students. There were Aldi, Hanum, Almira, Dita, Rizky, Bella, Fahri and Sasa. They were very active in the class, but as the researcher said before, they didn’t sit down together, but they mixed their seats and blended in, so it was very good for process of learning because they can influent their friends to be active like them.

The first, the calm students didn’t give many responses to the researcher, but after the active students gave them effects. They could join the activity that researcher gave. The class was very active and crowded because of their voice.

The class was conducive and was controlled. The first, the researcher gave the lesson about some vocabularies in daily. The students were very exited to repeat what the researcher said, and then they applied it in some sentences. After few minutes, they looked very tired and bored to do what the researcher wanted. The researcher made a game for making the class was controlled. and finally their spirit became full again. They didn’t give any negative comments for the researcher. They felt so comfortable with the researcher, so they did all of the researcher planning that had to be done by them well.

2.1.2        Learning Steps

The class was started as the classes same as the other active days. It started with praying, singing Indonesian theme song, singing traditional song, reading Pancasila and then ice breaking as pre activity. During the pre activity, all the students seemed interesting with it, not only the active students but also all of the types of the groups. In the main activity part, the students said some vocabularies that they did in their daily as the asking of the researcher. Then, they were asked to memorize them and practiced it into the good sentences.  

The active students followed every the researcher asked step by step well. They could memorize them by using their meaning also. They read them very loudly, and followed by the calm students that didn’t want to be the lost one in the class. They felt interesting with the cards that the researcher brought. The researcher asked the students one by one about the meaning and repeated it many times until they remember it without looking at the cards. After five vocabularies had been given to them, they would be asked many times by the researcher. Sometimes, they were asked one by one by choosing on of the students directly, sometimes they were asked together in one side of seat. There was no complain about this activity. They were very smart to memorize all vocabularies fast. Although they hadn’t been given the vocabularies before, some students knew the English Daily Vocabularies that the researcher gave, they just didn’t sound how to speak it well. They sound it by using reading ability in Bahasa. It was sounded so funny. But then, the researcher gave the true one how to sound it well.

After few minutes, they lost their voice because they were very spirit to repeat what the researcher said, and also they repeated it very loudly. Some seconds, the class was calm. The researcher gave them a game that asked the students to be concentrate to what the researcher said. The students that was not concentrate had to come forward and waited the next victim. after there were 10 students that got punishment. They had to sing and dance together as like how the researcher practiced in front of them. They looked very interesting and very happy with the punishment. The students that didn’t get punishment wanted to sing and dance together with the students getting punishment, so all of the students in the class danced and sang together. After all of them did it, they felt so spirit and the researcher asked them to write on their activity book what the researcher had written on the with board. Some students came forward  for looking at the writing because they wanted to be closer with the researcher.

The first and the post activity ran conducive and controlled. The researcher as the teacher drilled the vocabularies that had been memorized by them before and made the new sentence, and they did it well although the teacher asked them one by one, and they could mention the meaning of the vocabularies that the teacher gave. When the teacher wanted to close the class. Some students cried and they didn’t want if the researcher left them, they asked more time to study with researcher until the researcher hugged those students, for fear that they could stop crying. After they were calm. The researcher asked the class to be ended by praying together which was led by the chairman.

2.1.3        SWOT Analysis

The strength of the kind of students is that they would have much excitement toward what they call something new. They could not be more diligent only if they kept the spirit. Daily cards vocabularies or even English is something new to them. For such active students who never studied English before, a tool like daily cards vocabularies and a game are very helpful to ease the English understanding.

The weakness of the tool to them is that the game makes the spirit fast to be lost. A game like “traffic lights” needs much concentration, and in Indonesia the kind of game is not something which can be found anyplace. Although the students are very amazed to play the game to help them to study, the number of the game can lead the influence the effectiveness of the class. what is afraid of is when the other are playing the game, the others would not focus on the lesson anymore, and they play something by themselves. This may be solved only if the teacher can find the best way to make all them involved with the game. 

2.1.4        Reflection

The researcher teacher's reflection on real teaching program is very surprise and shocked. The researcher just made a deal for teaching just for sixty minutes, but the time that the researcher took was more than it. And also the students felt that the time was not enough, they needed more time to study with the researcher. almost all of the team of real reaching program in that Elementary School spent more time than the dealing before.  

The researcher was very glad to meet some the active group because without planning before, their ability to influent their friend was very helpful for the researcher. the students that got influence became active like them and very spirit to study with the researcher. the researcher was very young, and tried to be like them, so they spoke as if the researcher had been their real sister.

The researcher was very shocked because almost all students liked k-pop and they could dance like k-pop. They showed their ability for dancing after the class. And they asked the researcher to watch their performance. They looked very cute because they danced almost similar with the real k-pop. It could entertain the researcher after getting tired after teaching.

BAB III
DISCUSSION

From the data analysis above, there was some finding that the writer found when  teaching young Lerner, It aims to provide teachers with the knowledge and skills needed to support young learners through the delivery of engaging and motivating lessons. This eight module course focuses on aspects such as examining the skills children need to be able to learn effectively, and managing classroom interaction. Aspects such as skills development, evaluation, and assessment are explored through media rich content, and opportunities for discussion with teachers around the world. Participation in this course will give you the opportunity to explore tools and activities that prepare children for life long learning. All information is in one page, a single sheet of paper. It is supported Cameron (2001) proposes a thought provoking question in relation to the idea of teaching a foreign language to young learners. She asks: "What is different about teaching a foreign language to children, in contrast to teaching adults or adolescents?" (2001: 1). When I read this question, I immediately thought that teaching a foreign language to young learners could be interesting and easy since young learners are curious about learning; while teaching a foreign language to adolescents could be a bit more serious and tough. My discussion with English teachers to young learners, however, have convinced me that teaching English to young learners is not that easy, though interesting. Teaching English to young learners needs good teaching skills, creativity, thorough preparation, and patience. We must have all these attributes in order to make young learners keep motivated.
in the other hands, Cameron (2001) proposes a thought provoking question in relation to the idea of teaching a foreign language to young learners. She asks: "What is different about teaching a foreign language to children, in contrast to teaching adults or adolescents?" (2001: 1). When I read this question, I immediately thought that teaching a foreign language to young learners could be interesting and easy since young learners are curious about learning; while teaching a foreign language to adolescents could be a bit more serious and tough. My discussion with English teachers to young learners, however, have convinced me that teaching English to young learners is not that easy, though interesting. Teaching English to young learners needs good teaching skills, creativity, thorough preparation, and patience. We must have all these attributes in order to make young learners keep motivated.
Chapter IV
Conclusions and suggestion
            Conclusions
The use of TPR (Totally Physical Response) method is applied so that students can enjoy learning and can learn to communicate using foreign languages ​​well.
This is because basically the TPR method was developed to reduce pressure on students in the classroom, and to make the classroom atmosphere pleasant. (Larson-Freeman, 1986: 116)
Therefore, the teaching and learning process begins by listening to the command line (listening) which is then followed by a physical response. This learning method emphasizes the activity of students, namely direct activities related to physical (physical) and movement (movement) so that the research or observation that we do both from the model, and learning methods can be said succeed because students can be active in learning by being able to answer the questions raised directly to them.
Suggestion
In a learning process that needs to be considered by the teacher is the suitability of the learning process with the planned implementation of learning that has been prepared. In addition the teacher must also use appropriate models, approaches and methods so that students can receive information optimally and can improve life skills. students' independence in solving a problem in the learning process is also stressed, so that students do not give up easily in learning.
Teachers as leaders in the classroom are expected to give more motivation and appreciation in the form of praise to students, and suggest to thinking, that every student has knowledge, this is where the teacher plays a very important role to implement and guide students to explore all their knowledge.

Share:

Monday, April 15, 2019

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS DESCRIPTIVE SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE MIND MAPPING DI KELAS X



UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS DESCRIPTIVE SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE MIND MAPPING DI KELAS X SMAN BANDARKEDUNGMULYO
BAB III
METODE PENELITIAN
1.1  Jenis-Jenis

Untuk mengatasi permasalahan yang telah dirumuskan diatas, ada beberapa jenis penelitian yang akan diselidiki yaitu siswa, guru dan sumber belajar. Siswa untuk menyelidiki sejauh mana siswa dapat meningkatkan kemampuan menulis khususnya teks descriptive dengan menerapkan model pembelajaran Mind Mapping. Guru untuk melihat bagaimana peran guru dalam mempersiapkan materi,mempresentasikan materi dan menerapkan tekhnik pembelajran yang akan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran menulis descriptive text. Selanjutnya, sumber belajar untuk melihat bagaimana penggunaan buku dan bahan ajar lainnya. Apakah sudah sama dengan kurikulum dan konsep materi yang akan disampaikan dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.  

1.2  Objek/Lokasi

Penelitian ini melibatkan 30 siswa kelas X SMAN BANDARKEDUNGMULYO yang terdiri dari 17 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. Lokasi penelitian adalah SMAN BANDARKEDUNGMULYO Jombang.

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dari awal bulan Februari tahun 2019 sampai dengan awal bulan Maret tahun 2018. Adapun rincian kegiatan penelitian tersebut adalah: persiapan penelitian, koordinasi pelaksanaan tindakan, pelaksanaan (perencanaan, tindakan, monitoring dan evaluasi), penyusunan laporan penelitian, diskusi teman sejawat, penyempurnaan, penggandaan laporan penelitian.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2018/2019, antara bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2019 dan rencana berlangsung selama 1 bulan secara berkesinambungan.

1.3  Metode Pengambilan Data (prosedur pelaksanaan)

Penelitian ini direncanakan dalam 2 siklus. Dan setiap siklus akan dilakukan dalam dua kali pertemuan tatap muka, sehingga untuk dua siklus terdapat enam kali pertemuan. Setiap siklus selalu diakhiri dengan observasi dan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan dalam proses pembelajaran yang dilanjutkan dengan refleksi. Metode yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa terhadap teks descriptive adalah dengan menggunakan mind mapping.

Penelitian akan dilakukan dengan langkah-langkah :

1.      Planning (perencanaan)

Kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah :

1)      Membuat perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran mind mapping.

2)      Menyusun lembar observasi untuk mengetahui respon siswa terhadap proses pembelajaran mind mapping.

3)      Merancang instrument-instrumen evaluasi untuk mengetahui aktivitas guru maupun siswa dan untuk mengukur kemampuan siswa terhadap penulilsan teks descriptive

2.      Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan perencanaan pembelajaran dengan menggunakan metode mind mapping sesuai dengan perencanaan sebelumnya, dengan melakukan kegiatan

1)      Memberikan konsep tentang materi mind mapping.

2)      Memberikan tugas (teks descriptive) sesuai dengan konsep mind mapping yang telah diberikan.

3)      Melakukan evaluasi.

3.      Observasi dan Evaluasi

Observasi dan Evaluasi akan dilakukan selama pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang sebelumnya telah dibuat dan juga melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan.

4.      Refleksi

Semua hasil yang telah diperoleh dalam tahap observasi dikumpulkan menjadi satu dan akan dianalisis ditahap ini. Dari hasil tersebut, guru akan merefleksikan dirinya dengan melihat hasil observasi. “Apakah kegiatan yang telah dilakukan dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa tentang teks descriptive?” hasil analisis data yang dilaksanakan pada tahap ini akan digunakan sebagai acuan untuk melaksanakan siklus selanjutnya.

Instrument penelitian ini terdiri atas ; lembar observasi yang digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa ketika proses belajar mengajar didalam kelas, tes hasil belajar untuk mengukur kemampuan siswa memahami materi pelajaran, serta angket respon untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran teks descriptive menggunakan metode mind mapping.  

1.4  Metode Analisis Data

Keberhasilan penelitian ini ditentukan oleh meningkatkan hasil belajar dan respon yang baik dari siswa. Oleh karena itu, untuk mengukur hasil belajar digunakan tes tertulis untuk setiap siklus. Analisa data dilakukan dengan melihat peningkatan hasil dari siklus 1 dan siklus 2 yang dijelaskan berupa angka dan descripsi kemajuan kemampuan siswa. Sedangkan untuk respon siswa, instrument yang digunakan adalah lembaran pengamatan dan data akan di analisa melalui descripsi respon siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.

Pengamatan proses kegiatan belajar mengajar dilakukan menggunakan instrument obsevasi dengan dibantu oleh seorang observer dari teman sejawat yang mengetahui cara mengajar materi teks descriptive dengan menggunakan metode mind mapping.

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN BANDARKEDUNGMULYO Jombang yang seluruhnya berjumlah 30 siswa. Jenis data yaitu aktivitas dan data hasil belajar siswa. Kemampuan siswa dapat dilihat dari hasil evaluasi yang dilakukan dan observasi kegiatan yaitu kemajuan dari hasil observasi dan evaluasi mengenai pemahaman siswa tentang teks descriptive dengan membandingkannya dengan hasil yang telah diperoleh dari setiap siklus pembelajaran. Pada observasi awal dilakukan observasi terhadap data kemapuan menulis siswa terhadap teks descriptive.

Data-data yang telah terkumpul akan dianalisis secara descriptive kualitatif. Indicator Keberhasilan Tindakan adalah terjadinya peningkatan kemampuan siswa kelas X SMAN BANDARKEDUNGMULYO Jombang dalam memahami teks descriptive setelah menggunakan tekhnik mind mapping. Kemampuan siswa akan dikatakan meningkat apabila secara perorangan telah mencapai nilai minimal 75 dan secara keseluruhan mencapai nilai rata-rata 75. Pada tahap refleksi dilakukan pengkajian data yang didapat oleh peneliti dan observer, serta membandingkannya dengan pengalaman sebelumnya, dan dikaitkan juga dengan teori tertentu dan selanjutnya ditarik kesimpulan. Bila tindakan pertama dan tindakan tindakan kedua pada siklus satu belum bisa mencapai hasil yang diharapkan, maka selanjutnya akan dilakukan tindakan pada siklus berikutnya.

BAB I, BAB II <<<< Sebelumnya

Nah, di setiap siklus yang dilakukan mempunyai perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Cukup diketahui bahwa banyaknya siklus yang dilakukan dan yang paling baik adalah dua kali.

Contoh RPP Siklus 1


Share:

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS DESCRIPTIVE SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE MIND MAPPING DI KELAS X



UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS DESCRIPTIVE SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE MIND MAPPING DI KELAS X SMAN BANDARKEDUNGMULYO
BAB II

A.    KAJIAN PUSTAKA

1.      Menulis

1.1.   Pengertian

Menurut Gaith (2002) menulis itu adalah kegiatan yang mendorong seseorang untuk mengkomunikasikan pikiran-pikirannya dan membuat pemikiran-pemikirannya tercermin dalam bentuk tulisan. Lebih jauh ia mengungkapkan”When thought is written down, ideas can be examined, reconsidered, added to, rearranged and changed. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu menuangkan ide-ide yang dimiliki kedalam tulisan sehingga orang lain bisa mengetahui apa yang ingin disampaikan tanpa menggunakan lisan tetapi menggunakan tulisan yang benar dan mampu dipahami oleh orang lain.

Menulis bukanlah semata-mata masalah menstranformasikan “bahasa” ke dalam simbol-simbol tertentu namun lebih merupakan proses berpikir (Sitorus dan Said : 1997:1). Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan maksud dan tujuan tidak hanya melalui tulisan yang ada didalam suatu bacaan tetapi juga melihatnya dari prosesnya.

Selanjutnya Dagher (1997:1) mendifinisikan bahwa menulis merupakan proses berpikir yang dituangkan diatas kertas dalam bentuk tulisan. Proses berpikir ini mencakup proses bagaimana ide-ide dimunculkan, dan difokuskan pada ide-ide tertentu yang relevan dan saling terkait.

Jadi berdasarkan penjelasan di atas, penulis bisa menyimpulkan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan yang didalamnya terdapat proses menuangkan ide atau pemikiran seseorang melalui sebuah tulisan dengan tujuan untuk membuat pembaca mengetahui apa yang berusaha disampaikan oleh penulis.

1.2.   Kurikulum

Didunia pendidikan di Indonesia mengalami beberapa kali perubahan metode pembelajaran dikarenakan penyesuaian terhadap perkembangan zaman. Seperti metode-metode yang sebelumnya, metode ini juga mempunyai sisi negative dan juga sisi posifif yang dihasilkan. Penerapan kurikulum 2013 ini diterapkan dengan cara lebih mengacu kepada aplikasi yang ada didunia nyata sehingga siswa mampu mengaplikasikannya langsung didalam kehidupannya langsung, tetapi bagi beberapa sekolah, metode ini dipandang kurang cocok untuk diterapkan karena kurangnya Sumber Daya Manusia yang kurang siap dengan tuntutan kurikulum yang ada.

Sebelum membicarakan kurikulum 2013 lebih rinci, kita harus tau terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kurikulum. Kurikulum merupakan seperangkat peraturan yang dijadikan sebuah pedoman untuk kegiatan belajar mengajar. Pedomannya tersebut disesuaikan dengan perkembangan zaman sehingga kementrian pendidikan sebagai penanggung jawab bisa melakukan perubahan kapanpun jika dibutuhkan agar bisa menyesuaikan dengan standart internasional.

Kurikulum ini terdiri dari empat aspek penilaian yaitu pengetahuan, keterampilan, social dan spiritual. Pengetahuan adalah aspek yang mencakup tentang ilmu yang diberikan kepada siswanya. Keterampilan adalah aspek yang mencakup tentang kreativitas yang diharapkan bisa membuat siswa lebih berkreasi. Social adalah aspek yang mencakup tentang hubungan siswa dengan orang lain maupun lingkungan sekitarnya. Dan yang terakhir adalah aspek spiritual yaitu aspek yang mencakup tentang hubungan siswa dengan Tuhannya.  

Aspek-aspek tersebut mempunyai beberapa komponen yang masing-masing mempunyai hal berbeda yang akan dibicarakan yaitu  isi, strategi, evaluasi dan tujuan. Isi adalah komponen kurikulum yang paling utama dan yang paling penting karena didalamnya akan membahas tentang bahan ajar yang akan diberikan kepada muridnya untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Bahan ajar yang diajarkan pun juga harus sesuai dengan perkembangan siswa, berisi tentang pengetahuan ilmiah dan mampu mempertanggung jawabkan kebenarannya. Strategi adalah adalah tekhnik yang digunakan untuk mengajar dan yang paling penting tekhnik ini harus mampu menunjang kegiatan siswa agar bisa memenuhi standart yang menjadi acuan. Didalam strategi tidak hanya menggunakan tekhnik-tekhnik tertentu tetapi juga bisa menggunakan media-media yang sesuai dan mampu merangsang keinginan maupun perkembangan siswa dalam belajar. Evaluasi adalah suatu tahap akhir untuk menentukan hasil pembelajaran yang didapatkan siswa sudah sesuai dengan standart ataukah belum. Penerapan yang dilakukan sudah sesuai dengan kondisi siswa atau perlu dilakukan perbaikan. Dan yang terakhir adalah tujuan. Masing-masing jenjang pendidikan memiliki tujuan kurikulum yang berbeda-beda. Hal ini disesuaikan dengan perkembangan kognitif dan social anak. Oleh sebab itu, materi SD, SMP, SMA ataupun jenjang yang lebih tinggi akan sangat berbeda.

Jenjang pendidikan yang sama pun tidak akan mempunyai tujuan yang sama. Misalnya jenjang pendidikan SMA. Ada pembagian kelas didalamnya yang disitu juga termasuk dalam pengelompokan yang telah disesuaikan dengan kondisi siswa. Ada kelas X, XI dan XII. Disetiap tingkatan kelas tidak akan mempunyai visi yang sama. Bahkan dikelas yang sama tetapi dengan semester yang berbeda akan mempunyai tujuan yang berbeda. Misalnya materi bahasa inggris yang diajarkan dikelas X semester 2 adalah : 

1.      Congratulation

Materi tentang ucapan selamat kepada seseorang atas  keberhasilan atau pencapaian yang telah ia capai diberbagai event.

2.      Complimenting

Materi tentang pujian kepada seseorang atas keberhasilan atau pencapaian yang telah ia capai yang bertujuan untuk memberi dorongan semangat kepada seseorang agar orang tersebut tetap berprestasi dan bahkan berusaha lebih baik dari itu.

3.      Narrative text

Materi tentang cerita fiksi atau cerita karangan yang bertujuan untuk menghibur pembaca dengan kejadian yang berurutan yang mengarah kedalam suatu klimaks dan akhirnya menemukan penyelesaian.

4.      Expressing gratitude

Materi tentang ucapan terimakasih kepada seseorang yang telah memberikan sesuatu atau membantu kita dalam masalah

5.      Accepting an invitation

Materi tentang penerimaan suatu undangan atau ajakan yang telah diberikan orang lain dengan menggunakan berbagai respon.

6.      Descriptive text

Materi tentang suatu teks yang menggambarkan suatu hal atau object secara jelas dan tepat dengan tujuan untuk menggambarkan, menjelaskan atau mengungkapkan suatu hal atau object. 

7.      Expression of surprise and amazement

Materi tentang suatu ungkapan terkejut atau keheranan terhadap suatu hal yang tidak terduga dan mencengangkan.

8.      News item.

Materi tentang suatu text yang menginformasikan mengenai kejadian yang terjadi pada hari ini.

1.3.   Descriptive Text

1.3.1.                  Pengertian

Descriptive text adalah jenis teks yang banya digunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam penggambaran suatu benda, tempat, manusia, hewan dan benda lainnya. Descriptive text adalah sebuah text bahasa inggris yang digunakan untuk menggambarkan seperti apa benda atau makhluk hidup yang kita descripsikan, baik secara kenampakan, bau, suara atau tekstur dari benda atau makhluk hidup tersebut. Tujuan dari descriptive text sendiri yaitu untuk menggambarkan dan mengungkapkan cirri-ciri dari benda, tempat atau makhluk tertentu secara umum tanpa adanya riset atau penelitian secara mendalam dan menyeluruh.

1.3.2.                  Generic Structure

Descriptive text mempunyai dua bagian yang menjadi ciri khas dari text tersebut yaitu    :

1)      Identification

Identification adalah bagian dari Descriptive text yang berisi tentang topic atau hal yang akan digambarkan pada text tersebut. 

2)      Description

Description adalah bagian terakhir dari descriptive text yang berisi tentang pembahasan atau penggambaran tentang topic atau hal yg dijelaskan mengenai kenampakan fisik, kualitas, perilaku umum maupun sifat-sifatnya.

1.3.3.                  Ciri Kebahasaan

1)      Descriptive text menggunakan berbagai macam adjective (kata sifat) yang bersifat describing (menggambarkan), Numbering (menomerkan), dan Classifying (mengklasifikasikan), misalnya : two, weak, short, white, etc.

2)      Descriptive text menggunakan Relating verbs untuk memberikan informasi tentang subject, misalnya : my cat is really naughty, it always bites my foot when I am playing with it.

3)      Descriptive text menggunakan Thinking verb (kata kerja berfikir, seperti believe, imagine, etc) dan feeling verbs (kata kerja perasa, seperti feel) untuk mengungkapkan pandangan pribadi penulis tentang subject misalnya : I believe that she is nice person, I imagine she kicks the ball, etc.

4)      Descriptive text juga menggunakan adverb (kata keterangan) untuk memberikan informasi tambahan mengenai perilaku atau sifat (adjective) yang dijelaskan, misalnya : it is really cute, etc.

2.      Metode Pembelajaran

2.1.   Pengertian

Menurut Sudjana (2005:76) metode merupakan perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pembelajaran bahasa secara teratur, tidak ada satu bagian yang bertentangan dan semuanya berdasarkan pada suatu pendekatan tertentu. Pendekatan bersifat aksiomatis artinya pendekatan yang sudah jelas kebenarannya, sedangkan bersifat procedural yaitu pendekatan dengan menerapkan langkah-langkah yang maksudnya adalah menerapkannya melalui langkah-langkah ang teratur dan secara bertahap yang dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar dan penilaian hasil belajar.

Menurut Sangidu (2004:14) metode pembelajaran adalah cara kerja yang bersistem untuk memulai pelaksanaan suatu kegiatan penilaian guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Menurut Salamun (2009:7) metode pembelajaran adalah sebuah cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda dibawah kondisi yang berbeda. Hal ini berarti pemilihan metode pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang ingin dicapai.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan sebuah bersistem perencanaan yang digunakan untuk menyajikan materi pembelajaran. Metode ini dilakukan secara bertahap dengan menggunakan cara-cara yang berbeda untuk mencapai tujuan tertentu dibawah kondisi yang berbeda. 

2.2.   Macam-Macam

Penggunaan metode pembelajaran sangat penting karena dengan menggunakan metode, guru dapat melaksanakan proses belajar mengajar yang utuh dan bersistem. Macam-macam metode pembelajaran antara lain : (a) metode tutorial (pengelolaan pembelajaran yang dilakukan melalui proses bimbingan), (b) metode demonstrasi (pengelolaan pembelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan proses, situasi, benda atau cara kerja), (c) metode debat (meningkatkan kemampuan akademik siswa), (d) metode Role Play (cara penguasaan bahan pembelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan), (e) metode problem solving  (pemecahan masalah), dan (f) metode mind mapping (memetakan pikiran). (Sudjana, 2005:77-89).

Berdasarkan beberapa metode diatas, maka bisa disimpulkan bahwa metode pembelajaran mempunyai banyak jenis yang tujuannya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan siswa maupun guru yang mengajari. Untuk mata pelajaran bahasa inggris khususnya pelajaran descriptive text dapat menggunakan metode mind mapping, karena metode ini dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa agar tidak kehilangan ide ketika mendeskripsikan suatu objek benda.

2.3.   Mind Mapping

2.3.1.                  Pengertian

Menurut Tony Buzan (2004: 68) Mind Map adalah metode untuk menyimpan suatu informasi yang diterima oleh seseorang dan mengingat kembali informasi yang diterima tesebut. Mind Map juga merupakan teknik meringkas bahan yang akan dipelajari dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau teknik grafik sehingga lebih mudah memahaminya.

Menurut Pandley (1994: 45) Metode Mind Map bertujuan untuk membangun pengetahuan siswa dalam belajar secara sistematis, yaitu sebagai teknik untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam penguasaan konsep dari suatu materi pelajaran.

2.3.2.                  Kelebihan dan Kekurangan

Sebagai suatu system pembelajaran, mind mapping memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Kurniawati (2010:23) kelebihan dan kekurangan dari metode pembelajaran mind mapping adalah sebagai berikut :

·         Kelebihan       :

1)      Dapat mengemukakan pendapat secara bebas

2)      Dapat bekerja sama dengan teman lainnya

3)      Catatan lebih padat dan jelas

4)      Lebih mudah mencari catatan jika diperlukan

5)      Catatan lebih terfokus pada inti materi

6)      Mudah melihat gambaran keseluruhan

7)      Membantu otak untuk mengatur, mengingat, membandingkan dan membuat hubungan.

8)      Memudahkan penambahan informasi baru

9)      Pengkajian ulang bisa lebih cepat

10)  Setiap peta bersifat unik

·         Kelemahan

1)      Hanya siswa yang aktiv yang terlibat

2)      Tidak sepenuhnya murid belajar

3)      Mind mapping siswa bervariasi sehingga guru akan kwalahan memeriksa mind mapping.

Jadi berdasarkan beberapa kelebihan dan kelemahan dari metode pembelajaran mind mapping diatas, bisa disimpulkan bahwa begitu banyak kelebihan jika pembelajaran melibatkan mind mapping yang mampu memudahkan proses belajar mengajar. Untuk sedikit kelemahannya  bisa diatasi dengan beberapa cara sehingga kelemahannya tidak akan menjadi hambatan proses belajar mengajar.

2.3.3.                  Langkah-langkah

Adapun tahap-tahap pembelajaran menulis teks descriptive dengan menggunakan metode Mind Map adalah sebagai berikut:

      1. Guru menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran tentang materi pelajaran yang akan dipelajari.
      2. Siswa mempelajari konsep tentang materi pelajaran yang dipelajari dengan bimbingan guru yaitu materi teks descriptive.
      3. Siswa menjelaskan secara singkat apa yang dimaksud dengan teks descriptive.
      4. Siswa diminta untuk menjelaskan sebuah objek yaitu “orang tuanya” secara oral.
      5. Siswa mempelajari konsep metode mind mapping dengan bimbingan guru.
      6. Setelah siswa memahami materi dan metode yang telah diterangkan oleh guru, guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan tempat duduk yang berdekatan.
      7. Siswa diminta untuk membuat mind map dengan bacaan tentang “kucing’ yang telah diberikan oleh guru.

      1. Kemudian siswa dihimbau untuk membuat Mind Map dari materi yang dipelajari. Sebagai contoh untuk mempelajari teks descriptive dimulai dengan memetakan unsur-unsur yang ada di teks descriptive, kemudian menyusun Mind Map.
      2. Untuk mempertajam kemampuan menulis teks descriptive, guru memberikan contoh report teks tentang Kucing menggunakan Mind Map.
      3. Untuk mengevaluasi hasil siswa tentang pemahaman terhadap unsur-unsur penyusun bentuk teks descriptive, guru menunjuk beberapa siswa untuk mempresentasikan hasil Mind Map  tentang “kucing” lalu menuliskannya di papan tulis.
      4. Dari hasil presentasi yang ditulis oleh siswa di papan tulis, guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan.
      5. Guru memberikan soal latihan tentang materi yang telah dipelajari kepada siswa untuk dikerjakan secara individu.
      6. Pada akhir pembelajaran diadakan tes untuk mengetahui pemahaman konsep dan kemampuan akademis siswa.

B.     Penelitian Terdahulu

Eka Dwi Franchiska (2017) “Keefektifan Mind Mapping dalam menulis paragraph descriptive dengan tema La Maison pada siswa kelas XI SMAN 1 Demak” menyatakan bahwa metode mind mapping efektiv dalam meningkatkan keterampilan menulis descriptive tentang La Maison siswa kelas XI SMAN 1 Demak.

Penelitian ini memiliki persamaan dengan masalah yang penulis angkat yaitu sama-sama menggunakan metode mind mapping dan juga menggunakan teks descriptive.

Adapun perbedaaannya dengan penelitian yang penulis angkat adalah penulis melakukan penelitian di kelas X SMAN BANDARKEDUNGMULYO sedangkan penelitian Eka Dwi Franchiska melakukan penelitian di kelas XI SMAN 1 Demak.

Irma Pusparini (2017) “Meningkatkan kemampuan teks descriptive siswa melalui model mind mapping di SMPN 13 Banjarmasin” menyatakan bahwa penerapan metode mind mapping dapat meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa dalam keterampilan menulis, khususnya teks descriptive pada siswa kelas VII E SMPN 13 Banjarmasin.

Penelitian ini memiliki persamaan dengan masalah yang penulis angkat yaitu sama-sama menggunakan metode mind mapping dan juga menggunakan teks descriptive.

Adapun perbedaaannya dengan penelitian yang penulis angkat adalah penulis melakukan penelitian di kelas X SMAN BANDARKEDUNGMULYO sedangkan penelitian Irma Pusparini melakukan penelitian di kelas VII E SMPN 13 Banjarmasin.

Ida Bagus Putrayasa (2015) “Pembelajaran menulis paragraph dekripsi berbasis Mind Mapping pada siswa kelas VII SMP Laboratorium Undiksha” menyatakan bahwa pembelajaran menulis paragraph deskripsi menggunakan mind mapping dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas VII SMP Laboratorium Undiksha.

Penelitian ini memiliki persamaan dengan masalah yang penulis angkat yaitu sama-sama menggunakan metode mind mapping dan juga menggunakan teks descriptive.

Adapun perbedaaannya dengan penelitian yang penulis angkat adalah penulis melakukan penelitian di kelas X SMAN BANDARKEDUNGMULYO sedangkan penelitian Ida Bagus Putrayasa melakukan penelitian di kelas VII SMP Laboratorium Undiksha.

C.    Kerangka Pikir

Masalah yang terjadi pada pembelajaran teks descriptive ini adalah pembelajarannya kurang kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Ini mengakibatkan hasil belajar siswa tidak mencapai tujuan pembelajaran. .

Upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi kurangnya ke kreatifan dan keinnovatifan pembelajaran teks descriptive dan rendahnya prestasi belajar tersebut adalah dengan cara melaksanakan perbaikan pembelajaran teks descriptive dengan menggunakan metode mind mapping. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan prestasi dan hasil belajar siswa secara maksimal sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.

Berdasarkan munculnya permasalahan tersebut, peneliti akan mencoba melakukan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Hasil dari tes siklus 1 dan siklus II kemudian dibandingkan dalam hal pencapaian nilai. Hal tersebut, dilakukan untuk mengetahui pencapaian keberhasilan strategi pembelajaran teks descriptive dengan menggunakan metode mind mapping.

 Melalui strategi tersebut, diharapkan dapat meningkatkatnya prestasi dan ketuntasan belajar siswa minimal 75% dari seluruh siswa yang mengikuti pembelajaran.

D.    Hipotesis

Berdasarkan mengetahui hasil dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya dan setelah mempelajari metode mind mapping, maka peneliti membuat hipotesis tindakan bahwa penggunaan metode mind mapping dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks descriptive di kelas X SMAN BANDARKEDUNGMULYO.

BAB I <<<< Sebelumnya dan Selanjutnya >>>> BAB III

Share:

About

Powered by Blogger.

Archives